Rabu, 14 Desember 2011

Auguste Comte

 ComteChuap...chuap...
visit my first blog....yahh...


Teori Sosiologi

Auguste Comte
Pemikiran Sosiologis Auguste Comte
Kelahiran Positivisme Dan Evolusi Cara Berfikir Manusia

Sketsa Biografi
Auguste Comte
          Auguste Comte lahir di Montpelier, Prancis pada tanggal 19 Januari 1798 (Pickering, 1993: 7). Orang tuanya berasal dari kelas menengah dan akhirnya sang ayah meraih posisi sebagai petugas resmi pengumpul pajak lokal. Comte adalah seorang mahasiswa yang cerdas, namun dia dan seluruh mahasiswa seangkatannya dikeluarkan dari Ecole Polytechnique karena gagasan politik dan pembangkangan mereka. Tahun 1817 ia menjadi sekretaris dan menjadi anak angkat Claude Henri Saint Simon (Manuel, 1962: 251) yang nantinya menjadi guru baginya. Heilbron (1995) menggambarkan Comte bertubuh pendek dan bermata juling. Ia gelisah dengan situasi sosial di sekitarnya terutama menyangkut perempuan, dan ia terasing dari masyarakat. Comte menikah dengan Caroline Massin tahun 1825 sampai tahun 1842. Comte pernah menderita gangguan jiwa dan masalah mental serta pernah mencoba bunuh diri pada tahun 1827 dengan melemparkan diri ke Sungai Seine meski gagal.
          Pada tahun 1842 karya Comte yang melambungkan namanya, Cours de Philosophie Positive terbit.  Pada tahun 1838 Comte mulai tidak mau membaca karya orang lain sehingga dia tidak dapat berhubungan dengan perkembangan intelektual terkini. Ia pun mulai mengembangkan gagasan aneh dan mengkhayalkan diri sebagai pendeta tinggi agama baru kemanusiaan dan mendapatkan pengikut di Prancis maupun sejumlah negara lain. Auguste Comte wafat pada 5 September 1857.
Auguste Comte (1798-1857)
          Comte adalah orang pertama  yang menggunakan istilah sosiologi (Pickering, 2000; Turner, 2001). Ia percaya bahwa studi sosiologi harus ilmiah, sebagaimana yang dirintis teoretisi klasik dan sosiolog-sosiolog kontemporer (Lenzer, 1975). Comte sangat terusik oleh anarki yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat Prancis dan bersikat kritis terhadap pemikir yang menumbuhkembangkan pencerahan dan revolusi ia mengembangkan pandangan ilmiahnya, “positivisme” atau “filsafat positif”, untuk menyerang apa yang dipandangnya filsafat negative dan Comte melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat ilmiah ini sebagai puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis Kemajuan ini mencakup perkembangan dari bentuk pemkiran teologis, metafisis yang pada akhirnya samapi terbentuknya hukum – hukum ilmiah yang positif.destruktif dari pencerahan
          Dasar pendekatan Comte mengenai teori evolusi atau hukum tiga tahap menyatakan bahwa dunia, kelompok manusia, masyarakat, ilmu pengetahuan, individu, dan pikiran pun mengalami tiga tahap, yaitu:
Teologis: ciri dunia sebelum tahun 1300 dimana pada masa itu sistem ide utama dititikberatkan pada kepercayaan bahwa kekuatan supranatural dan figur-figur religius yang berwujud manusia menjadi akar segalanya.
Metafisis : Berlangsung kira-kira antara tahun 1300-1800. Dicirikan dengan kepercayaan bahwa kekuatan abstrak seperti alam dan bukan Tuhan yang dapat menjelaskan segalanya.
Positivistik : Dicirikan dengan kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan.Orang kini cenderung berhenti melakukan pencarian terhadap Tuhan atau alam dan lebih berkonsentrasi pada penelitian terhadap dunia sosial dan fisik.
          Ia menegaskan bahwa kekacauan intelektual adalah penyebab kekacauan sosial. Sosiologi Auguste Comte tidak terfokus pada individu namun justru menjadikan entitas yang lebih besar seperti keluarga, sebagai unit dasar analisisnya. Ia pun menganjurkan kita agar melihat struktur dan perubahan sosial.
Agama Humanitas
          Desakan untuk mendirikan agama positif terutama karena mengingat runtuhnya tatanan sosial tradisional yang sebelumnya sudah memuncak dalam Revolusi Perancis, dan Comte khawatir kalau mengarah ke anarki.
Sementara humanitas merupakan objek utama pemujaan dalam agama baru itu, konsep humanitas selalu kabur untuk orang yang mau mengenalnya (khususnya masyarakat biasa). Supaya konsep ini dapat ditangkap, wanita atau kewanitaan akan disembah sebagai perwujudan kehidupan perasaan dan sebagai pernyataan yang paling lengkap dari cinta dan altruisme. Berulangkali Comte mengemukakan bahwa perasaan wanita dan altruisme lebih tinggi  daripada intelek dan egoisme pria menurut nilai sosialnya.
Comte dikesankan oleh kebudayaan abad pertengahan. Bukan tahap evolusi pemikiran manusia yang mengesankan dia masa itu, melainkan pengintegrasian yang ditonjolkan antara nilai – nilai rohani dengan nilai – nilai duniawi. Misalnya lembaga keluarga tidak semata – mata dianggap sebagai lembaga sekuler saja, tetapi dianggap suci dan sakral juga. Terddorong oleh keyakinan bahwa hati manusia merupakan daya ang terutama, ia melucuti angkatan bersenjata dari cita sakralnya, dan sebagai gantinya ia memberi status sakral kepada kaum wanita. Ia meningkatkan status sosial mereka dan meluhurkan peranan mereka dalam rumah tangga. Ia menentang perceraian. Bunda Maria, ibu Yesus al Masih, dihormatinya. Melalui hormat kepada Bunda Maria ia menyatakan hormatnya kepada seluruh ibu.
Dalam kehidupannya Clothilde de Vaux diibaratkan sebagai Perawan Maria serta menjadi simbol perwujudan “wanita ideal”. Dalam istilah Freud, reaksi emosional Comte terhadap hubungan fisik yang tidak terpenuhi dengan Clothilde de Vaux merupakan sublimasi terhadap suatu tatanan yang lebih tinggi. Hubungan cinta mereka adalah hubungan cinta murni tanpa hubungan fisik (menyebabkan Comte sangat frustrasi); sesudah kematian istrinya itu, hubungan rohaniah ini diubah Comte menjadi penyembahan terhadap roh wanita yang dia ketemukan sedemikian indah dan sempurna terjelma dalam tubuh Clothilde de Vaux dan Ia sebut dengan cinta platonist. Sebetulnya Comte menjadi sedemikian terpikat oleh pandangannya mengenai masyarakat positivis dimasa depan hingga dia malah membayangkan suatu kemungkinan pria dan wanita akan  berkembang kesuatu titik dimana hubungan seks tidak diperlukan lagi dan “kelahiran akan muncul begitu saja dari wanita.”
Comte menarik kesimpulan, bahwa pengintegrasian kembali masyarakat atas dasar prinsip – psrinsip positivisme hanya mungkin dilaksanakan melalui agama gaya baru, yaitu agama sekuler dengan lambangnya, upacaranya, hari – hari raya, dan orang – orang “Kudus”-nya. Hanya agama yang akan mampu menyemangati baik akal – budi maupun perasaan dan kemauan. Oleh karena itulah, Comte dalam masa tuanya mendirikan agama baru itu. Yang disembah sebagai Yang Maha Tinggi bukan Tuhan, melainkan humanitas atau kemanusiaan. Kita harus mencintai humanitas. Dengan humanitas tidak dimaksudkan untuk semua orang, tidak termasuk bagi yang jahat dan tidak becus, melainkan orang – orang terbaik yang pernah dihasilkan sejarah dan masih hidup melalui karya dan pengaruh mereka. Menurut Comte, cinta inilah yang akan memulihkan keseimbangan dan keintegrasian baik dalam diri pribadi individu maupun dalam masyarakat. Cinta ini akan melahirkan pemerintahan sipil, menjinakkan, dan mengendalikan tiap – tiap kekuasaan duniawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar